Murji'ah & Mu'tazilah

Materi Pembelajaran

Materi

LATAR BELAKANG MUNCULNYA ALIRAN MURJI'AH

Kata Murji'ah diambil dari kata "irja atau arja'a" yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Kata arja'a juga mengandung arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat dari Allah SWT. Golongan Murji'ah pertama kali muncul di Damaskus pada penghujung abad pertama Hijriah. Kaum Murji'ah merupakan golongan yang tidak mau ikut campur dalam pertentangan-pertentangan yang terjadi ketika itu dan mengambil sikap menyerahkan penentuan hukum kafir atau tidak kafirnya Ada beberapa teori yang mengemukakan asal usul munculnya aliran Murji'ah, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Teori pertama, menjelaskan bahwa gagasan Irja'a atau arja dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat Islam ketika terjadinya pertikaian politik dan juga bertujuan untuk menghindari sektarianisme. Diperkirakan aliran Murji'ah ini muncul bersamaan dengan munculnya Khawarij.
  2. Teori kedua, mengatakan bahwa gagasan Irja'a muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh cucu Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah, sekitar tahun 695.

    Menurut Watt, 20 tahun setelah kematian Muawiyah, dunia Islam dikoyak oleh pertikaian sipil. Al-Mukhtar membawa paham Syi'ah ke Kufah dari tahun 685-687; Ibn Zubair mengklaim kekhalifahan di Mekkah hingga yang berada di bawah kekuasaan Islam. sebagai respon keadaan ini, muncul gagasan irja atau penangguhan. Gagasan ini pertama kali digunakan tahun 695 oleh cucu Ali bin Abi Thalib, Al-Hadan Muhammad Al-Hanafiyah, dalam sebuah surat pendeknya. Dalam surat ini Al-Hasan menunjukkan sikap politiknya dengan mengatakan,"Kita mengakui Abu Bakar dan Umar, tetapi menangguhkan keputusan atas persoalan yang terjadi pada konflik sipil yang pertama melibatkan Utsman, Ali, dan Zubair." Dengan sikap politik ini, Hasan mencoba untuk menanggulangi perpecahan umat Islam. Ia pun mengelak berdampingan dengan kelompok Syi'ah yang terlampau menganggungkan Ali dan para pengikutnya, serta menjauhkan diri dari Khawarij yang menolak mengakui kekhalifahan Muawiyyah dengan alasan bahwa dia adalah keturunan Utsman.

  3. Teori ketiga, mengatakan bahwa aliran Murji'ah ini muncul setelah terjadi pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyyah bin Abu Sufyan yang berakhir dengan tahkim. Kelompok Ali terpecah menjadi dua kubu, yakni kubu yang masih setia dengan Ali disebut Syi'ah. Adapun kubu yang satunya adalah kelompok yang keluar dari barisan Ali dikenal dengan Khawarij. Khawarij memandang bahwa keputusan tahkim bertentangan dengan Al-Qur'an. Oleh karena itu, pelaku yang terlibat dalam peristiwa tahkim dianggap telah berdosa besar dan dihukumi kafir. Pendapat ini ditolak sebagian sahabat yang disebut dengan Murji'ah, yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar tetaplah mukmin, tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah, apakah dia akan mengampuninya atau tidak.

Dari ketiga teori di atas dapat diungkapkan bahwa aliran Murji'ah muncul sebagai reaksi terhadap pendapat kaum Khawarij yang mengkafirkan orang-orang yang telah melakukan dosa besar, diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib, Mua'wiyah, Amr bin Ash, Abu Musa Al-Asy'ari, dan lain-lain yang telah menerima arbitrase atau tahkim. Hal ini diawali oleh pertikaian dan pertumpahan darah antara pengikut Ali dengan pengikut Mu'awiyah Ibn Abi Sufyan yang memperebutkan masalah "Khilafah".

Masalah politis inilah yang mengawali munculnya aliran-aliran teologi, maka pada waktu itulah muncul tiga aliran teologi Islam, diantaranya adalah aliran Khawarij, Murji'ah dan Mu'tazilah. Dimana, kaum Murji'ah pada mulanya merupakan golongan yang tidak mau ikut campur dalam pertentangan-pertentangan yang terjadi ketika itu dan mengambil sikap menyerahkan penentuan hokum kafir atau tidak kafirnya seseorang kepada Allah SWT.